Sejarah Desa

       Pada sekitar tahun 1920-an terjadi penggabungan 2 desa menjadi 1, yaitu desa Semampir dan desa Kuntili yang keduanya dipimpin oleh kepala desa dengan sebutan “Lurah”. Desa Semampir saat itu dipimpin oleh Ki Lurah Santana, sedangkan desa Kuntili oleh Ki Lurah Sentana.

       Sebelumnya dimusyawarahkan terlebih dahulu tentang nama desa yang akan dipakai setelah penggabungan. Ternyata hasil musyawarah menyepakati bahwa nama desa yang dipakai adalah salah satu dari nama kedua desa itu, yaitu sesuai hasil pemiliha kepala desa yang diikuti oleh kedua “lurah” tersebut. Bagi “lurah” yang memenangkan pemiihan, maka akan memimpin desa hasil penggabungan dan membawa nama desa asalnya untuk menjadi nama desa yang baru.

       Dari hasil pemilihan “lurah” itu ternyata dimenangkan oleh Ki Lurah Naya Sentana, sehingga kedua desa setelah digabung bernama desa Kuntili. Sejak saat itu sampai dengan sekarang, desa Kuntili telah mengalami beberapa kali pergantian kepala desa, yang antara lain sebagai berikut:

- Tahun 1920 sampai dengan 1935            : Ki Naya Sentana

- Tahun 1936 sampai dengan 1942            : Ki Reso Utomo

- Tahun 1945 sampai dengan 1960            : Ki Kamin

- Tahun 1963 sampai dengan 1965            : Ki Reso Utomo

- Tahun 1966 sampai dengan 1970            : Bp. Sarijan

- Tahun 1971 sampai dengan 1988            : Bp. Kartosudiro

- Tahun 1989 sampai dengan 2007            : Bp. H. Muchlis

- Tahun 2007 sampai dengan sekarang   : Bp. Abbas Wahyudi

Dari tahun 1920 samapi sekarang kegiatan pemerintahan desa Kuntili senantiasa diisi dengan berbagai macam pembangunan, baik fisik maupun non-fisik. Kegiatan pembangunan fisik mulai banyak dilaksanakan pada sekitar tahun 1970, menjelang berakhirnya kepemimpinan Bp. Sarijan. Saat itu banyak bantuan-bantuan dari pemerintah order baru dengan sasaran pembangunan fisik. Hal ini untuk menunjang program pemerintah tentang repelita. Pembangunan di bidang pertanian dan perhubungan sangat diutamakan, karena pemerintah saat itu merencanakan program peningkatan produksi pangan nasional, khususnya beras.

        Masyarakat desa Kuntili menyambut baik rencana pemerintah melalui program bimas atau inmas saat itu, sehingga produksi padi yang dikelola masyarakat desa Kuntili yang sebagian besar adalah petani dapat meningkat tajam. Dari pemerintah saat itu desa Kuntili mendapat kriteria desa swasembada.

       Satu-satunya program pembangunan non-fisik yang diutamakan saat itu adalah membangun mental bangsa dengan digalakannya penataran pedoman, penghayatan dan pengalaman Pancasila (P4). Dari mulai siswa sekolah, kelompok organisasi, karyawan dan pegawai semua berhak mendapat penataran P4. Termasuk di desa Kuntili sampai beberapa tahun dilaksanakan secara rutin diadakan lomba cerdas tangkas P4 (CT P4), baik tingkat sekolah maupun tingkat umum

    Masyarakat desa Kuntili dapat merasakan arti pembangunan yang diprogramkan pemerintah apa lagi dengan terealisasinya program listrik masuk desa pada tahun 1979, semakin tinggi kesadaran masyarakat untuk membangun dengan swadaya sesuai kemampuannya. Meskipun terjadi krisis ekonomi pada tahun 1997 yang dampaknya dirasakan oleh semua kalangan, ternyata masyarakat desa Kuntili yang sebagian besar bermata pencaharian bertani, tidak begitu terpengaruh oleh keadaan. Berapapun biaya bercocok tanam meningkat tajam, pertanian tetap berjalan. Tidak seorang petani pun yang menghentikan usahanya atau menjual lahan sawahnya karena tidak mampu membiayai olah pertanian. Atas dukungan dari masyarakat pemerintah desa Kuntili tetap berusaha mempertahankan agar pembangunan yang telah direncanakan dapat terealisasi. Pembangunan sarana berhubungan yang hasilnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat terus berjalan. Jembatan daru konstruksi ringan sampai sedang dibangun di setiap jalur jalan pada areal persawahan. Pemerintah desa sangat menyadari bahwa kesejahteraan warga tani adalah merupakan modal dasar keberhasilan pembangunan desa dan kemakmuran masyarakat secara umum.

     Lebih kurang tiga tahun berselang, yaitu menjelang tahun 2000 desa Kuntili mendapat proyek P3DT. Masih dibawah kepemimpinan Bp. H. Muchlis, masyarakat sangat antusias untuk berswadaya mendukung terlaksananya program itu. Proyek yang direncanakan untuk perkerasan jalan dusun sepanjang 960 meter, akhirnya dapat berkembang hingga 1200 meter. Berawal dari sini lah, kemudian Bp. H. Muchlis bersama lembaga-lembaga desa merencanakan untuk menindak lanjuti pembangunan sarana dan prasarana jalan.

   Dari rencana pengaspalan jalan disetiap jalan RW maupun rabbat beton dan paving blok jalan RT. Hingga kepemimpinannya digantikan pada tahun 2007 lalu oleh Bp. Abbas Wahyudi pembangunan tersebut terus berlanjut. Dengan mendapat bantuan aspal dari pemerintah Kabupaten, pemerintah Provinsi dan dukungan swadaya dari masyarakat pembangunan dan perawatannya berjalan sampai sekarang.